alfitri cantik
KARYA
TULIS ILMIAH
MENELADANI AKHLAK NABI MUHAMMAD SAW

Disusun Oleh:
ALFITRI
Dosen Pengampu
Hendri Firmansyah, M.Pd
PROGRAM
STUDI MANAJEMN DAKWAH
FAKULTAS USHULUDDIN
ADAB DAN DAKWAH
INSTITUTE
AGAMA ISLAM NEGERI (IAIN) BENGKULU
2019
DAFTAR
ISI
DAFTAR
ISI ............................................................................................2
BAB I
PENDAHULUAN .........................................................................3
BAB II
PEMBAHASAN .........................................................................4
A. Keteladanan Sebagai
Pemimpin ...............................................................4
B. keteladanan kerendahan
hati nabi ...........................................................5
C. keteladanan adil, jujur,
terpercaya ..........................................................5
D. Tantangan Meneladani
Rasulullah ...........................................................6
BAB III
PENUTUP ................................................................................8
A.
Kesimpulan ........................................................................................8
BAB I
PENDAHULAUAN
Tak
ada alasan kita untuk menyangkal kenyataan bahwa nabi Muhammad SAW adalah
semulia-mulia manusia, orang paling tinggi kedudukannya dan paling sempurna
diantara manusia baik kualitas maupun sifat kebaikannya. Sifat terpuji dan
akhlak mulia haruslah diusahakan oleh setiap manusia untuk memilikinya.
Pemilik sifat-sifat terpuji dan akhlak
mulia adalah orang yang sangat terpuji, dengan memiliki sebagian dari
sifat-sifat tersebut cukup mengantarkan seseorang kepada kehormatan yang
tinggi. Agama sangat memuji kita dan menjanjikan kepada kita
kebahagiaan. Akhlak mulia mencerminkan keharmonisan antara berbagai naluri
dan potensi diri, dan mengembangkan diri pada sikap tengah-tengah daripada
sikap yang mengarah kepada ekstrimitas.
Dan dengan memiliki akhlak yang baik kepada
sesama terutamanya itu akan menjadikan diri kita dicintai oleh Allah SWT dan
Nabi Muhammad SAW. Nabi Muhammad SAW, adalah orang yang paling sempurna kemuliaan
dan keharmonisannya sehingga Allah memujinya. Keteguhan pendirian, ketabahan, dan maaf
sekalipun mengandung unsur kekuatan atau ketahanan terhadap hukuman
dan unsur kesabaran terhadap penderitaan.
BAB
II
PEMBAHASAN
A. Keteladanan
Sebagai Pemimpin
ada empat hal karakter seorang
pemimpin apa yang telah dicontohkan Rasulullah, sebagai berikut:
1. Keteladanan dalam
keyakinan kepada Allah.
Apabila seorang pemimpin kurang dekat dengan Allah, maka sikap dan kebijakannya pun akan kurang terarah dan memberikan kemanfaatan yang banyak bagi para pengikutnya. Seorang pemimpin yang taat kepada Allah, dia akan menjadikan segala kebijakannya berorientasi pada kemaslahatan umat dan menghindari dari segala hal yang kurang bermanfaat dan sia-sia.
Apabila seorang pemimpin kurang dekat dengan Allah, maka sikap dan kebijakannya pun akan kurang terarah dan memberikan kemanfaatan yang banyak bagi para pengikutnya. Seorang pemimpin yang taat kepada Allah, dia akan menjadikan segala kebijakannya berorientasi pada kemaslahatan umat dan menghindari dari segala hal yang kurang bermanfaat dan sia-sia.
2. Keteladanan dalam akhlak
Rasul
dan para sahabat telah mencontohkannya, bagaimana akhlak yang baik dan mulia,
dapat membawa perubahan menuju arah yang baik. Dengan akhlak yang baik, hati
seseorang dapat tersentuh, walaupun pada awalnya ia kurang suka. Seorang yahudi
buta yang sangat membenci Rasulullah dapat masuk Islam , karena akhlak mulia
Beliau. Tak pernah lupa, Beliau selalu menyuapi orang buta itu setiap hari,
walaupun dicaci maki dan dihina setiap hari. Tapi Beliau terus sabar dan
ikhlas, bahkan Nabi pun selalu mengelus punggung orang buta tadi, layaknya
kepada seorang anak kecil.
3. Keteladanan dalam
pengorbanan
Seorang pemimpin adalah orang yang harus lebih banyak berkorban dari pada pengikutnya. Dia mengorbankan waktunya, pikiranya, dan hartanya untuk kepentingan bersama. Dia bersedia untuk turun langsung membantu orang-orang yang dipimpinnya. Tidak hanya sekedar mengarahkan dan menyuruh, tapi dia bersama-sama pengikutnya melakukannya.
Seorang pemimpin adalah orang yang harus lebih banyak berkorban dari pada pengikutnya. Dia mengorbankan waktunya, pikiranya, dan hartanya untuk kepentingan bersama. Dia bersedia untuk turun langsung membantu orang-orang yang dipimpinnya. Tidak hanya sekedar mengarahkan dan menyuruh, tapi dia bersama-sama pengikutnya melakukannya.
4. Keteladan dalam
memberikan solusi dari setiap permasalahan
Rasulullah pun selalu dapat memberikan solusi jika terdapat konflik atau masalah. Solusinya pun tepat sasaran. Bahkan Beliau dapat menyikapi perbedaan pendapat yang ada dalam pengikutnya dengan win-win solution.
Rasulullah pun selalu dapat memberikan solusi jika terdapat konflik atau masalah. Solusinya pun tepat sasaran. Bahkan Beliau dapat menyikapi perbedaan pendapat yang ada dalam pengikutnya dengan win-win solution.
Jika
pemimpin dapat memberikan keteladan, Insya Allah maka perubahan
ke arah yang lebih baik dapat terjadi. Pemimpin itu ibarat sumber mata air di
hulu. Bila di hulu airnya telah keruh, maka kebawahnya akan keruh juga. Jika
dari sumbernya telah bersih dan jernih, makan kebawahnya pun Insya Allah akan
bersih juga.
Oleh karena itu, jadilah kita pemimpin yang dapat memberikan keteladanan bagi lingkungan sekitar. Kita semua adalah pemimpin, maka kita harus dapat menjadi contoh yang baik bagi orang lain, dalam setiap sikap dan tutur kata kita. Jadilah kita seorang memiliki hati yang bersih denga berakhlak mulia.
Oleh karena itu, jadilah kita pemimpin yang dapat memberikan keteladanan bagi lingkungan sekitar. Kita semua adalah pemimpin, maka kita harus dapat menjadi contoh yang baik bagi orang lain, dalam setiap sikap dan tutur kata kita. Jadilah kita seorang memiliki hati yang bersih denga berakhlak mulia.
B. Keteladanan Kerendahan
Hati Nabi
Sekalipun derajat kedudukan nabi sangat tinggi dan terhormat,
namun sikap nabi sangat rendah hati dan sama sekali tidak berbangga diri.
Buktinya antara lain, bahwa nabi telah diberikan pilihan antara menjadi “raja
dan nabi atau menjadi hamba dan nabi” maka nabi memilih menjadi “seorang hamba
dan nabi” ketika nabi ,menetapkan pilihan tersebut, malaikat israfil berkata
kepadanya: Allah memuliakan dirimu lantaran kerendahan hatimu. Engkau adalah
pemimpin anak keturunan adam pada hari kebangkitan dan orang pertama yang
diterima memberikan pertolongan (syafaat).
Dalam sebuah hadist diriwayatkan oleh umar, nabi bersabda :
janganlah berlebihan memujiku sebagai mana seorang Kristen berlebihan dalam
memuji putra Maryam. Saya seorang hamba maka cukuplah kalian memanggilku hamba
Allah dan Rasulnya. Dalam menggambarkan kerendahan hatinya
A’isyah, al-Hasan menyatakan bahwa rasulullah berkenan membantu pekerjaan rumah
tangganya, membersihkan pakaiannya, menambal sandalnya, menyediakan
keperluannya sendiri, menyapu rumah, dan menyikat kaki untanya. Beliau berkenan
mengembalakan unta dan makan bersama para pelayan. Bersama mereka beliau turut
mengadoni roti dan membawa sendiri belanjaannya dari pasar.
C. Keteladanan Adil,
Jujur, Terpercaya
Nabi Muhammad SAW adalah
seorang yang terpercaya, adil, santun dan jujur. Bahkan pihak lawan dan
musuhnya mengakui pribadi nabi tersebut. Sebelum menjadi rasul masyarakat
makkah memberinya gelar Al-ammin (bijak dan terpercaya).
Ketika
berlangsung pemugaran Ka’bah masyarakat qurais berselisih dan bersengketa,
nyaris menimbulkan perpecahan, perihal siapakah yang berhak meletakkan Hajar
Aswad pada tempatnya. Maka mereka memutuskan bahwa orang yang pertama yang
dating ke Ka’bah akan menjadi hakim. Ternyata Muhammad lah orang yang pertama
datang. Mereka berkata : Muhammad lah yang berhak menyelesaikan perselisihan
ini. Dialah pemuda yang paling bijak dan terpercaya diantara kita. Kami semua
menerimanya. Ali berkata bahwa abu jahal pernah berkata
kepada nabi : kami tidak menyebutmu seorang pembohong kami hanya mengatakan
bahwa apa yang kamu sampaikan adalah kebohongan. Karena itulah allah menurunkan
ayat :
Artinya: Sesungguhnya Kami mengetahui
bahwasanya apa yang mereka katakan itu menyedihkan hatimu, (janganlah kamu
bersedih hati), karena mereka sebenarnya bukan mendustakan kamu, akan tetapi
orang-orang yang zalim itu mengingkari ayat-ayat Allah. (Q.S. Al-An’m.33). Nabi Muhammad saw
merupakan contoh teladan terbaik dan tipologi ideal paling prima. Hal ini
digambarkan oleh al-Qur’an surat Al-Ahzab, 33: 21
Artinya: Sesungguhnya telah ada pada (diri)
Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap
(rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan Dia banyak menyebut Allah.
(Al-Ahzab, 33: 21). Dengan keteladan Nabi terhadap manusia menyebabkan dakwah yang
dilakukan Rasullullah mendapatkan sambutan yang luar biasa. Sehingga islam
tersebar dimana-mana di seluruh dunia ini
D. Tantangan
Meneladani Rasulullah
Perkembangan
zaman mengakibatkan gaya hidup manusia menjadi berubah yang semula mereka
saling membutuhkan menjadi bersikap individualis dan tak peduli dengan orang
lain. Globalisasi selain menghadirkan dampak ‘positif’ untuk hidup mudah,
nyaman, murah, indah, maju. juga mendatangkan dampak ‘negatif’ yaitu
menimbulkan keresahan, penderitaan dan penyesatan
Bagi masyarakat, Globalisasi merupakan
sebuah fenomena yang banyak menimbulkan dampak negatif yang di bawa oleh
negara-negara dengan tujuan agar masyarakat mengikuti cara hidup di negara
mereka. efek-efek negatif tersebut dapat diuraikan sebagai berikut:
a. Pemiskinan nilai
spiritual. Tindakan sosial yang mempunyai nilai materi (tidak produktif)
dianggap sebagai tindakan yang rasional.
b. Jatuhnya manusia dari
makhluk spiritual menjadi makhluk material.
c. Peran agama digeser
menjadi urusan akhirat sedang urusan dunia menjadi wewenang sains
(sekularistik).
d. Tuhan hanya hadir dalam
pikiran, lisan, tetapi tidak hadir dalam perilaku dan tindakan.
e. Gabungan ikatan
primordial dengan sistem politik melahirkan nepotisme, birokratisme, dan
otoriterisme.
f. Individualistic.
g. Terjadinya frustasi
eksistensial seperti hasrat yang berlebihan untuk berkuasa merasa hidupnya
tidak bermakna.
h. Terjadinya
ketegangan-ketegangan informasi di kota dan di desa, kaya dan miskin,
konsumeris
BAB III
PENUTUP
A. Kesimpulan
Nabi Muhammad SAW. Dalam keteladanan
Sebagai Pemimpin sudah mencontohkan nilai-nilai yang baik,
maka jadilah kita pemimpin yang dapat memberikan keteladanan bagi
lingkungan sekitar. Kita semua adalah pemimpin, maka kita harus dapat menjadi contoh
yang baik bagi orang lain, dalam setiap sikap dan tutur kata kita. Jadilah kita
seorang memiliki hati yang bersih denga berakhlak mulia. Dan dalam beliau
memberikan contoh dari sisi kerendahan hati nabi, sampai Allah SWT memujinya
dalam Al-Qur’an beberapa kali dengan sikap kelembutan hati beliau.
keteladanan adil, jujur, terpercaya pun dicontohkan oleh nabi sampai musuh
sekalipun memuji beliau dengan sebutan al-amin (dipercaya) dan di jelaskan pula
dalam Al-Quran Surah Al-Ahzab ayat 21.
Sebegitu pentingnya kita meneladani akhlak
Rasulullah namun manusia tak luput dari kesalahan oleh karena itu banyak hal
yang bisa mempengaruhi akhlak manusia salah satu penyebab yang sekarang kita
jumpai yakni arus globalisasi yang telah merubah tingkah laku manusia menjadi
tingkah laku yang tamak, materialistis, individualis, dan lain
sebagainya. Salah
satu ciri-ciri arus gloablisasi yakni Perubahan dalam konsep dan waktu seperti
adanya telepon genggam, televisi, dan internet menjadikan komunikasi semakin
cepat. Hal ini menyebabkan manusia luput dalam kesenangan dan melupakan
kewajiban yang diperintahkan Allah dan Rasulnya. Semoga
kita semua dapat menjadi umat yang benar-benar mencintai Allah SWT dan
Rasulullah SAW. Aamiin Ya Rabbal Allamiin ...
Komentar
Posting Komentar